LKMM WILAYAH 3 ISMKI
Pelaksanaan : 2025-10-10 s/d 2025-10-12
LKMM Wilayah III 2025 merupakan sebuah acara kaderisasi rutin yang diselenggarakan Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI)Wilayah III. Pada tahun 2025, acara LKMM Wilayah III diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran UMP . Acara ini akan diadakan di Kota Purwokerto dan akan dihadiri oleh delegasi dari ke-18 institusi kedokteran yang menjadi anggota ISMKI Wilayah III. Tema acara untuk tahun ini adalah “Sangkara Naya” menggambarkan perpaduan antara kesadaran diri (sangkara) dan arah atau tujuan (naya) dalam konteks kepemimpinan dan perjalanan hidup. Dalam filosofi Jawa, sangkara sering dimaknai sebagai kesadaran batin akan kekuatan, potensi, dan tanggung jawab diri, sedangkan naya merujuk pada kebijaksanaan dalam menentukan arah dan strategi untuk mencapai tujuan. “Sangkara Naya” menjadi simbol bahwa seorang pemimpin sejati tidak hanya menyadari potensi dirinya, tetapi juga mampu menuntun langkah dengan arah yang jelas dan bijaksana. Kesadaran diri memberikan landasan yang kuat untuk memahami kelebihan dan kekurangan, sementara kemampuan menentukan arah menjadikan perjalanan lebih terarah dalam menghadapi tantangan. Filosofi ini mendorong peserta untuk berani menggali jati diri mereka, menemukan kekuatan dan kelemahan pribadi, lalu mengarahkan potensi tersebut pada tujuan mulia yang bermanfaat bagi sesama. “Sangkara Naya” juga mengajarkan pentingnya integritas, arah hidup yang jelas, serta keberanian mengambil keputusan dalam situasi penuh ketidakpastian
LKMM Wilayah III 2025 merupakan sebuah acara kaderisasi rutin yang diselenggarakan Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI)Wilayah III. Pada tahun 2025, acara LKMM Wilayah III diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran UMP . Acara ini akan diadakan di Kota Purwokerto dan akan dihadiri oleh delegasi dari ke-18 institusi kedokteran yang menjadi anggota ISMKI Wilayah III. Tema acara untuk tahun ini adalah “Sangkara Naya” menggambarkan perpaduan antara kesadaran diri (sangkara) dan arah atau tujuan (naya) dalam konteks kepemimpinan dan perjalanan hidup. Dalam filosofi Jawa, sangkara sering dimaknai sebagai kesadaran batin akan kekuatan, potensi, dan tanggung jawab diri, sedangkan naya merujuk pada kebijaksanaan dalam menentukan arah dan strategi untuk mencapai tujuan. “Sangkara Naya” menjadi simbol bahwa seorang pemimpin sejati tidak hanya menyadari potensi dirinya, tetapi juga mampu menuntun langkah dengan arah yang jelas dan bijaksana. Kesadaran diri memberikan landasan yang kuat untuk memahami kelebihan dan kekurangan, sementara kemampuan menentukan arah menjadikan perjalanan lebih terarah dalam menghadapi tantangan. Filosofi ini mendorong peserta untuk berani menggali jati diri mereka, menemukan kekuatan dan kelemahan pribadi, lalu mengarahkan potensi tersebut pada tujuan mulia yang bermanfaat bagi sesama. “Sangkara Naya” juga mengajarkan pentingnya integritas, arah hidup yang jelas, serta keberanian mengambil keputusan dalam situasi penuh ketidakpastian



